JATUH DI LUBANG YANG SAMA
JATUH DI LUBANG YANG SAMA
By:NNul_
15
Muharram 1441 H
Dulu hatiku pernah patah,
Patah sepatah-patahnya.
Kecewa dan marah terhadap diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat oleh
hati sehingga tak bisa lagi terkontrol oleh logika.
Bagaimana tidak, setelah
fase persahabatan yang telah lama terjalin rusak karena adanya fase pengalihan
rasa yang datang secara tiba-tiba.
Entah siapa yang bersalah,
namun yang jelas namanya hati tak akan ada yang bisa menduga bahkan hati
sendiri pun terasa sulit.
Lambat laun, karena adanya
fae tersebut semuanya berubah.
Dulu masih sering saling
bertukar kabar dan saling lempar canda kini tak ada lagi. Bahkan kontak
personal dari masing-masing pun tak ada yang menyimpan. Betul-betul terputustak
ada kata.
Kecewa? Jelas…. Sebab banyak
yang berubah semenjak itu. Perasaan nyaman yang dulunya selalu menemani kini
berubah jadi lawan untuk berkabar. Hilang seketika dan tak berbekas.
Namun setelah kejadian itu, hatiku
pernah sembuh dan terobati oleh orang
baru yang tiba-tiba mengetuk dengan sopan. Tak ada kata marah atau
penerimaan yang tidak baik terhadapnya sebab dia datang dengan maksud yang
baik. Menurutku kala itu.
Sehingga lambat laun. Waktu
demi waktu rasa itu berubah jadi rasa nyaman. Entah hatiku yang butuh penawar
atas kejadian kemarin atau aku yang yang terlalu cepat percaya dengan orang
baru.
Tapi hati tak bisa
berbohong, semuanya pun terasa tenang. Hati yang patah kemarin telah terobati
oleh hatinya yang lembut.
Namun, setelah berjalan
beberapa lama. Kurang lebih setahun menjalani hubungan tanpa kepastian, rasanya
pun kian memudar. Perlahan, Hubungan yang kita jalani kini berjarak dan
menyeruak dal, ego yang saling ingin dipertahankan satu sama lain.
Memilih bisu dan membungkam
semua pertanyaan didalam pilu. Mencoba menenangkan hati yang seakan-akan ingin
bersorak menyeruarakan perasaan kecewanya meskipun tak bisa. Mencoba meredam
kesal dan menerima hal-hal yang masih dianggap normal dengan hari yang lapang
meskipun terpaksa.
Yah, inilah hatiku. Yang
seakan-akan tegar menerima segalanya tanpa ada perlawanan. Sehingga dengan
sendirinya menyakiti diri sendiri menajdi salah satu konsekuensi yang dipilih
agar semuanya bisa terlihat baik-baik saja dimatanya.
Hmm…. Dasar aku,
Katanya mau pura-pura tegar
dengan segala situasi yang terjadi, tapi berjalan sebulan dua bulan saja
rasanya sudah sangat lelah untuk tetap bertahan.
Pikirku terlalu naïf, ketika
memaksakan hatiku selalu bersabar dengan segala ketidakpastian yang terjadi
selama ini. Dan yang terjadi sekarang, akulah si keledai itu. Tidak bisa
belajar dari masa lalu. Hanya bisa jatuh di lubang yang sama. Begitupulah
dengan aku. Perasaan patah yang dulu dirasakan oleh hati kini terulang kedua
kalinya.
Yah, mungkin ini karena
kesalahanku juga yang terlalu ceroboh dalam menaruh hati. Memaksakan hati agar
bisa bahagia dengan orang yang baru yang awalnya aku anggap sebagai obat
manis yang bisa menyembuhkan, tapi
nyatanya aku salah. Aku terlalu terburu-buru meminum obat sehingga salah pilih,
Alhasil hanya pekat yang terasa dan meninggalkan rasa pahit.
Untung saja, masih dalam
kadar yang sedikit jadi efeknya tidak terlalu terasa. Andaikan hatiku
terlampauh jatuh jauh kepadanya, mungkin saja untuk kedepannya aku sudah tidak
bisa percaya lagi yang namanya jatuh hati kepada seseorang sebelum menikah.
Alhamdulillah, rasa syukur
yang kurasakan seketika mengingat pemilik hati yang paling kekal. Yaitu Allah
SWT. Bersyukur Allah SWT masih
membukakan hatiku , bahwa mencintai seseorang melebihi cintanya kita kepada
sang pencipta itu hanya akan meyakiti hati kita senidiri. Bahwa mencintai
sebelum waktunya sama saja ibarat kita membawa hati kita pada luka yang dalam.
Untung saja tidak, karena sedikit demi sedikit aku masih bisa mengimbangi
antara logika, perasaan dan agamaku. Yang jelas-jelas melarang setiap hambanya
melakukan zina apalagi mendekati zina. Melalui pacaran. Baik itu pacaran
islmai, pacaran restu orang tua, bahkan pacaran tanpa restu orang tua sekalipun
tidak dibenarkan sama sekali.
Dan semnetara yang terjadi
sekarang, sekat yang semakin berjarak. Aku akan berusaha menjauhkan diri dari
sesuatu hal yang tidak disenangi Allah SWT. Meskipun dalam hatiku masih ada
peasaan cinta. Namun biarlah perasaaan tersebut berlabuh dalam doa yang khusyu
yang hanya ku perdengarkan untuknya Sang Pencipta sang pemilik hatiku. Ku
serahakan padanya segala ketepan takdir ku kepadanya, baik dari rezeki maupun
jodoh. Karena kuyakin segala ketentuan yang menjadi keputusannya adalah yang
terbaik bagiku dan baginya kelak.
Sementara kini, pelangi yang
dulu selalu hadir tergantikan menjadi awan kelabu yang kian menghitam. Untung
saja tidak berakhir dengan turunnya hujan. Hanya saja semuanya semua menjadi
abu yang tak terlihat sama sekali. Tapi semuanya masih sama. Sama seperti pada
awal kita bertemu. Tak ada rasa sama sekali. Semuanya memudar seiring
berjalannya waktu. Kita berdua bagaikan
orang asing yang bertemu dan berakhir pula sebagai orang asing…….
Komentar
Posting Komentar